Rabu, April 27, 2011 | Filed in:
Itulah hati.. Yg bersitanya tak mampu di diarahkan..
Yang kecondongannya tak mampu di atur..
Yang inginnya tak mampu di tekan..
Itulah hati, yg debarnya tak mampu dikendali..
...Yg buncahan bahagianya tak mampu di tutupi..
Yg jeritanx tak mampu di redam..
Itulah hati..
Dia
mengendali lakunya sendiri.. Kendati ribuan tali kekang ku pasangkan..
Tetap saja sulit untuk ku arahkan.. Maka kan ku dapat diriku dalam lelah
yang berkepanjangan.. Karenamu duhai hati..
Diriku bgt paham
akan langkah yg mulai menyalahi.. Begitu tahu akan terjalx jalan yg ku
pilih.. Tapi bersitanx duhai hati, begitu kuat.. Seakan ribuan medan
magnet menarik ke arahnya.. Ada apa dgn mu duhai segumpal daging di
dada?
Sungguhkah diri ini telah mengendali dgn baik?
Tepatkah tali kekang telah ku pasang dgn benar? Ataukah..
Memang ku sengaja melemahkan kendaliku?
Ataukah tali kekang itu memang sengaja ku kendorkan..
Duhai beningnya qalbu..
Adakah syahwat mulai bermain d dalamx? Apakah putihmu telah ternoda bercak? Aku bingung, aku lelah..
Beribu macam tanya hadir dlm benakku.. Bermain di relung terdalam..
Ku coba..
Ku tahu mata adalah jendela hati.. Maka ku coba tundukkan pandanganku.. Agar tak dapat menatapmu.. Namun tahukah?
Di
bawah ku dapati jejak kakimu, dan kembali ku melangkah bermain menapak
jejakmu.. Berlari mencari tepinya dgn harap menemukanmu.. Lalu apa
gunanya ku tundukkan pandanganku?? Jika kakiku tetap menapak di atas
jejakmu..
Tapi tetap ku coba..
Ku mulai menghapus
bayangmu.. Ku kurung diriku dalam ruang gulita tak berpendar.. Agar
lenyap semua bayangan tentangmu.. Tapi tahukah?
Semakin ku liputi
diriku dalam gelap semakin jelas cahayamu nanar dalam tiap pejam ku..
Lalu untuk apa gulita jika selalu ku temukan cahayamu dalam tiap
pejamku?
Dan akan tetap ku coba..
Ku coba menanam ribuan
duri tentangmu d hati, ku semai racun agar kau tak tumbuh merekah dlm
dada.. Ku pasang tembok pembatas antara hatimu dan hatiku..
Tapi tahukah? Tiap duri yg ku semat tumbuh merangkai namamu..
Tiap racun yg ku tabur menjadi obat penawar luka..
Tiap tembok yg ku pasang, merambat hijau lumut melukismu..
Lalu apa lagi yg harus ku perbuat? Sunggu aku dalam lelah tak bertepi.. Dalam luka yg menganga.. Dalam jerit tak terucap..
Maka ku coba..
Ku
hapus air mataku bukan dgn sapu tangan karena ku tahu tak akan mampu
menyembunyikan sembabnya.. Maka ku hapus tiap tetesnya dgn wudhu yg
menyejukkan.. Berharap tiap bercak noda d hati ikut luluh dan tersaput..
Ku
pasang pembatas dgnmu bukan dgn duri, racun ataupun tembok.. Karena ku
tau itu pun tak berguna.. Tapi dgn hamparan hijab syariat.. Dgn ilmu
penawar hati.. Dengan lingkaran majelis zikir..
Tak akan ku coba
hapuskan bayangmu, tapi ku kan mencoba menatapmu dgn biasa, mencintaimu
dgn ikhlas.. Tanpa sedikitpun ingin memilikimu, tanpa sebersitpun ingin
menggapaimu.. Dan ku mulai meninggalkan jejakmu.. Ku kan mbuat jejak
sendiri di tiap langkahku menapak menuju cinta yg jauh lbh abadi..
Ketahuilah,
tak akan ku coba menghapus cintamu, tp kan ku tutupi dgn cinta yg jauh
lbh agung.. Cinta yg jauh lbh indah dan membumbung.. Yg ku yakin, Dia yg
menentukan akhir dari tiap jejak kita..
Ku harap, suatu hari
nanti, kaupun melangkah ke arah yg sama dgnku menuju cintaNya.. Agar
kelak jejak kita dapat bertemu d ujung IradahNya..
------***-------
Aztriana..
Makassar, 170710. 13.18 \(^,^)/
This entry was posted on 4/27/2011 10:59:00 PTG
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
Langgan:
Catat Ulasan (Atom)

0 comments:
Catat Ulasan